Kisah Cinta Tsabit bin Marzaban - Abu Hanifah Mazhab Hanafi
Kisah Cinta Apel Semanis dan Seindah Buahnya Begitulah Kisah Cintanya Tsabit - Abu Hanifah Mazhab Hanafi
Apel adalah buah yang berwarna indah, siapapun pasti kenal dan tahu apel, baik karena manfaatnya, karena suka, karena keindahan warnanya dll. Tapi apakah pembaca tahu kisah dibalik buah apel yang bahkan sampai anak cucu kita akan dibicarakan terus menerus?
kalau pembaca belum tahu, ulun akan menyebutkan Mazhab Hanafi insya allah pian pasti tahukan? karena itu adalah empat (4) dari mazhab yang sampai sekarang digunakan oleh umat muslim dan pembaca tahu apa tidak jika kisah apel ini adalah awal dari Imam Abu Hanifah dikarenakan ini adalah kisah cinta dari orang tua beliau Tsabit
Terdapat sebuah kisah terkenal berabad-abad yang lalu dari era Tabi’in. Tsabit bin Marzaban, seorang pemuda yang saleh sedang berjalan di Kota Kufah, Irak, hendak menuntut ilmu. Matahari bersinar sangat terik. Cuaca panas membuat kerongkongan kering dan Tsabit pun merasa lapar, sambil menahan lapar dan haus Tsabit berjalan terus menerus sampai dipinggiran sungai, tanpa sengaja ia melihat sebuah apel ranum berwarna merah menyala hanyut di sungai.
Dalam kondisi yang lapar, Tsabit pun memungut apel tersebut. Rezeki yang datang tiba-tiba, sebuah apel datang tanpa diduga di saat yang tepat. Tanpa pikir panjang, ia pun memakannya, mengisi perutnya yang keroncongan. Baru segigit (dikisahkan dalam beberapa riwat paling banyak memakan apel tsb setengahnya) menikmati apel merah nan manis itu, Tsabit tersentak. Milik siapa apel ini? bisiknya dalam hati.
Meski menemukannya di jalanan, Tsabit merasa bersalah memakan apel tanpa izin empunya. Bagaimanapun juga, pikir Tsabit, buah apel dihasilkan sebuah pohon yang ditanam seseorang. '”Bagaimana bisa aku memakan sesuatu yang bukan milikku,” kata Tsabit menyesal.
Ia pun kemudian menyusuri sungai. Dari manakah aliran air membawa apel segar itu? Tsabit berpikir akan bertemu dengan pemilik buah dan meminta kerelaannya atas apel yang sudah digigitnya itu. Cukup jauh Tsabit menyusuri aliran sungai hingga ia melihat sebuah kebun apel. Beberapa pohon apel tumbuh subur di samping sungai. Rantingnya menjalar dekat sungai. Tak mengherankan jika buahnya sering kali jatuh ke sungai dan hanyut terbawa arus air.
Tsabit pun segera mencari pemilik kebun. Ia mendapati seseorang tengah menjaga kebun apel tersebut. Tsabit menghampirinya seraya berkata, “Wahai hamba Allah, apakah apel ini berjenis sama dengan apel di kebun ini? Saya telah memakan apel Anda, untuk itu saya mohon maaf. Sudilah kiranya engkau merelakan apel ini agar halal untuk kumakan,” pinta Tsabit sembari menunjukkan apel yang telah dimakan segigit itu.
Namun, penjaga kebun itu menjawab, “Saya bukan pemilik kebun apel ini. Bagaimana saya dapat memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya? Pemilik kebunlah yang berhak memaafkanmu.”
“Baiklah, jika demikian di manakah rumah majikanmu?”
Lalu, penjaga kebun itu pun berkata, “Rumah pemilik kebun apel cukup jauh, Butuh waktu sehari semalam tiba di sana (Kira-kira lima mil dari tempat kebun tsb). Perjalanannya pun tidak mudah. Mengapa tidak kaumakan saja apel itu? Toh, ia tidak akan memedulikan sebuah apel itu karena hasil kebunnya begitu melimpah ruah!” usul si penjaga kebun.
“Sejauh apa pun rumahnya, saya harus tiba di sana meskipun harus melalui berbagai rintangan. Sebagian apel ini sudah saya telan, artinya di dalam tubuh ini terdapat makanan yang tidak halal bagiku karena belum meminta izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah SAW. bersabda, ‘Setiap daging yang tumbuh dari makanan haram maka api nerakalah yang layak baginya’ ” tukas Tsabit tegas.
Melihat keteguhan hati Tsabit, si penjaga kebun akhirnya memberi tahu arah perjalanan menuju rumah majikannya. Tsabit berterima kasih atas kesediaan penjaga kebun memberi tahu alamat majikannya. Tanpa buang waktu, Tsabit segera beranjak menuju rumah pemilik apel.
Perjalanan mendaki dan berbatu ia lalui, sungai pun ia seberangi agar ia dapat bertemu dengan pemilik apel. Begitu risaunya ia akan peringatan dari Rasulullah SAW.
Setelah menempuh jarak sekitar delapan kilometer, Tsabit tak putus asa untuk mencari keridaan pemilik apel. Akhirnya, ia sampai di sebuah rumah dengan perasaan gelisah, apakah si pemilik kebun akan memaafkannya. Tsabit merasa takut sang pemilik tak meridai apelnya yang telah jatuh ke sungai digigit olehnya.
Tsabit mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam. Seorang lelaki tua, membukakan pintu.
“Wa’aiaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa anak muda?” tanyanya. Rupanya dialah pemilik kebun itu.
“Wahai Tuan, kedatangan saya ke sini untuk meminta keikhlasanmu atas buah apel yang terlanjur saya makan. Semoga engkau memaafkanku,” Tsabit menjelaskan apa yang merisaukannya kepada si pemilik kebun (saya telah menemukan sebuah apel dari kebun Anda di sungai, kemudian saya memakannya. Saya datang untuk meminta kerelaan Anda atas apel ini. Apakah Anda meridainya? Saya telah mengigitnya dan ini yang tersisa,” ujar Tsabit memegang apel yang digigitnya).
Pemilik kebun menyimak dengan saksama. Lalu, Tsabit pun tersentak ketika sang tuan rumah berkata, “Tidak, saya tidak merelakanmu, Nak.”
Penasaran dengan pemilik kebun apel yang mempermasalahkan satu butir apel, Tsabit menanyakan apa yang harus ia lakukan agar tindakannya itu dimaafkan. “Saya tidak akan menghalalkannya, kecuali jika kau memenuhi persyaratanku,” pria tua itu menjawab.
“Apakah itu, Tuan?” tanya Tsabit harap-harap cemas.
“Kamu harus menikahi putriku dan saya akan menghalalkan apel itu untukmu.” kata pemilik kebun yang mengagetkan Tsabit.
Tentu saja Tsabit terkejut dengan syarat itu. Haruskah ia menebus kesalahannya dengan pernikahan? Belum habis keterkejutan Tsabit, lelaki tua pemilik apel itu melanjutkan, “Putriku bisu, tuli, buta, dan lumpuh. Bagaimana? Apakah kamu menyanggupinya?”
Tsabit makin terkejut. Syarat yang mungkin sulit masuk di akal, Ia harus menikahi perempuan cacat yang akan mendampinginya seumur hidup. Namun, Jika jalan ini dapat membuka pintu ampunan Allah SWT, ia harus menjalaninya dengan ikhlas. Tsabit pun menyanggupinya. (hukuman yang harus ditanggung Tsabit hanya karena mengigit sebutir apel yang temukan di sungai).
Tsabit, seorang pemuda tampan, harus menikahi wanita cacat hanya karena memakan sebuah apel. “Datanglah ba’da Isya untuk berjumpa dengan istrimu,” kata pemilik kebun.
Malam hari usai shalat Isya, Pernikahan pun diselenggarakan. Mempelai wanita menanti di dalam rumah saat akad nikah berlangsung. Selesai dilakukan akad nikah, Tsabit dipersilakan oleh sang mertua untuk menemui putrinya yang kini telah sah menjadi istri Tsabit.
Tsabit pun menemui calon istrinya yang cacat. Ia masuk ke kamar pengantin wanita dengan langkah yang berat. Hatinya dipenuhi pergolakan luar biasa, namun pemuda gagah itu tetap bertekad memenuhi syarat sang pemilik apel. Tsabit pun mengucapkan salam seraya masuk ke kamar istrinya.
Ia mengetuk kamar yang ditunjuk sambil mengucapkan salam. Ketika Tsabit hendak membuka pintu kamar, terdengar suara wanita yang suaranya lembut nan merdu menjawab salamnya. Ia urung masuk ke dalam kamar itu karena yang ia tahu istrinya bisu, tuli, dan buta, “Oh, maaf, saya salah kamar!” ujar Tsabit.
“Kau tidak salah. Saya istrimu yang sah!” kata wanita di dalam kamar itu, “Silakan masuk, wahai suamiku!”
Tsabit benar-benar dibuat bingung dengan semua kejadian yang belakangan ini ia hadapi. Rasanya mustahil jika sang pemilik kebun berdusta tentang putrinya. Apa untungnya bagi dia?
Ketika Tsabit masih berdiri tertegun di depan kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tak hanya itu, wanita itu mampu berdiri dan menghampiri Tsabit. Begitu cantik paras si wanita, tanpa cacat apa pun di anggota tubuhnya yang lengkap. Tsabit kebingungan, ia berpikir salah memasuki kamar dan salah menemui wanita yang seharusnya merupakan istrinya yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh.
Tak percaya, Tsabit pun mempertanyakan si gadis bak bidadari tersebut. Ia makin yakin bahwa ini bukanlah istrinya, “Apa yang dikatakan ayah tentang aku?” tanya si gadis mendapati suaminya mempertanyakan dirinya seolah tak percaya.
Tsabit bertanya kepada wanita yang berdiri di hadapannya itu, “Jika kau benar istriku, ayahmu berkata bahwa kau adalah seorang gadis buta. Tetapi, mengapa kamu bisa melihat?”
““Demi Allah, ayahku berkata jujur, mataku buta karena tidak pernah melihat sesuatu yang diharamkan Allah,” jawab putri pemilik kebun buah itu. membuat Tsabit kagum. (Siapa yang tak kagum kan akan hal itu)
“Lalu, mengapa ayahmu mengatakan kamu tuli? Padahal, kau dapat mendengar salamku!” tanya Tsabit kembali.
“Itu juga benar, beliau tahu bahwa saya tidak pernah mau mendengar satu kalimat pun, kecuali di dilamnya terdapat rida Allah,” jelas sang istri.
“Kau pun tidak bisu seperti yang dikatakan ayahmu? Apa artinya?”
“Saya bisu karena tidak pernah mengatakan dusta dan segala sesuatu yang tercela yang membuat Allah murka. Saya banyak menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah.”
“Terakhir, apa maksud ayahmu mengatakan kau lumpuh?” tanya Tsabit lagi.
“Ya, ayah benar dan tidak berdusta. Itu karena saya tidak pernah pergi melangkahkan kakiku ke tempat-tempat yang Allah murkai.”
Betapa bahagianya Tsabit bahwa yang ia nikahi adalah sosok wanita salehah yang sempurna fisiknya dan cantik bak purnama di kegelapan malam. Ia pun mengucapkan syukur. Sang pemilik kebun kagum dengan sifat kehati-hatian Tsabit dalam memakan sesuatu hingga jelas kehalalannya. Melihat kegigihan dan kesalehan Tsabit, ia pun berkeinginan menjadikannya menantu, menikahkannya dengan putrinya yang shalihah.
Dari pernikahan mereka lahirlah seorang ulama shalih, mujadid yang sangat terkenal, yakni Nu’man bin Tsabit atau yang lebih dikenal dengan nama Al-Imam Abu Hanifah. Bersama istrinya yang shalihah, Tsabit mendidik putranya menjadi salah satu imam besar dari empat madzab.
Dalam hal ini, Rasulullah saw pernah berpesan dalam sabdanya, “Berjanjilah kepadaku enam hal dan saya akan menjanjikan engkau surga. Bicaralah jujur (benar), tepati janjimu, penuhi kepercayaanmu, jaga kesucianmu, jangan melihat yang haram, dan hindarilah apa yang dilarang.” (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Daud).
Kisah pemuda yang bukan lain adalah ayah dari Imam Abu Hanifah tersebut terdapat dalam kitab terkenal Al-Aghani karya Abu Al-Faraj Al-Isbahani. Buku terkenal dalam kesusastraan Arab tersebut berisi tentang sajak lagu serta informasi biografi dari tokoh-tokoh Islam terdahulu, para tabi’in dan tabi’ut di masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyyah.
Sebagaimana diketahui, Abu Hanifah merupakan ulama cerdas ahli fiqih dan ahli ra’yi, pelopor mazhab Hanafi. Beliau lahir di Kufah, ibu kota Dinasti Umayyah, pada 80 hijriah atau 699 masehi. Kitabnya yang terkenal, yakni Kitabul-Athar dan Fiqh al-Akbar, yang hingga kini menjadi rujukan hukum fikih bagi para pengikut madzhab Hanafi di seluruh dunia. Dalam mempelajari hadis, Abu Hanifah sempat bertemu dengan sahabat Rasulullah, Anas bin Malik, yang wafat tahun 93 hijriah. Di masa remajanya, Abu Hanifah menghabiskan waktu untuk mempelajari hadis Rasulullah.
Saat ini, mazhab Hanafi merupakan satu dari empat mazhab yang paling banyak dianut Muslim Sunni di dunia. Mazhab tersebut juga menjadi dasar kekhalifahan masa Dinasti Abbasiyyah dan Turki Usmani, serta dianut oleh Kekaisaran Mughal di India. Di era sekarang, mazhab Hanafi banyak digunakan Muslim di beberapa negara Timur Tengah dan Asia Selatan, seperti Turki, Afghanistan, India, Pakistan, Bangladesh, serta di Suriah, Lebanon, Turki, Iran, Irak, dan Palestina.


Posting Komentar untuk "Kisah Cinta Tsabit bin Marzaban - Abu Hanifah Mazhab Hanafi"